Friday, 13 May 2011

I dot not what i feel


* memang tak selalu ada yg terbaik
dari diri ini dan juga dirinya
namun ku yakin cinta ini takkan pernah salah


aku memang tidak akan bisa membunuh cinta meski aku harus dipaksa untuk mengubur cinta, aku tak ingin kehilangan cinta, karena cinta adalah segalannya untuk ku..
mungkin dulu memang berbeda dengan kini bahkan akan jauh berdeba dengan nanti..
tapi, aku tau cinta itu akan tetap ada.

aku tak akan pernah meninggalkan cinta, aku akan tetap bersamanya
cintaku yang dulu kurasa sangat berbeda dengan cintaku yang kini tapi aku takut menyambut cintaku yang nanti..
karna aku sudah mulai takut, benar-benar takut kehilangan cinta.

meski demikian,
aku tau tuhan menciptakan cinta tak hanya satu, tuhan ciptakan banyak cinta untukku, dulu, kini, nanti dan suatu saat itu.

aku tak bisa membunuh cinta namun aku mampu mengatur cinta..
aku tidak ingin ditinggalkan oleh cinta,
tapi, aku harap cinta tidak berpihak pada untuk saat ini, karena aku takut cinta malah berubah arah, cinta ini malah menyakitkan..

sudah,
cintaku akan tetatp ada..

aku terus berbicara tentang cinta, memaknai cinta, namun aku tetp bingung apa itu cinta..



JogjaNeverEndingAsia,

Mei. 2011

Tuesday, 19 April 2011

* Sesak. . .


hari ini aku semangat berangkat ke kampus, walaupun persiapan buat kuis sama sekali nggak optimal, ikhtiarnya nyaris nggak ada. hehhee. . .

kuliyah biodas selesai juga akhirnya.. kuis dengan soal-soal yang nggak ku ngerti itu lenyap sudah dari pikiran.

cacing-cacing di perutku mulai show out. keroncongan jee..
semangko mie ayam ternyata bisa meredah suara bisingnya yang terus terngiang di gendang telingaku..

masuk lagi ni kulyah serftifikasi II.

dreeettt... dddrrreeettt..
hp ku geter..
from : .....................

oowww..
ak baca smsnya dengan seksama. aku hayati, maknai
ooww... tiba-tiba dadku sesaaaaaaak bangeeett...

antara tersingung, mau nangis, tapi iye bener memang gitu..

ooh tuhan..
:(*

Friday, 1 April 2011

Nice Wednesday…


Sungguh melelahkan keseharian ini, duduk di ruang kelas hanya saja berpindah tempat dan ruangan, tapi tetaplah sama yang aku kerjakan, duduk di kelas mendengarkan dosen yang katanya ia sedang mentransfer ilmu di depan sana itu. Ya, selamat berjuang lah pak !!
Lelah namun harus tetap semangat,
Pagi, siang, samapi senja aku hanya di kelas, walaupun masih memang ada waktu aku berjalan-jalan di luaran sana.
Oooo….. jam 07:30 until 17:50 !
Super sekali. . . !!

Ya, mungkin ini memang salah satu kebijakan pemerintah semenjak tragedi 1998 ketika itu. Mahasiswa disibukkan dengan kegiatan belajar di kampus, dan di harapkan agar mahasiswa tidak sibuk dan aktif dengan organisasi di luar kampus. Kenapa? Ya, mahasiswa yang aktif di luar kampus di anggap sedikit mengkhawatirkan, karena mahasiswa-mahasiswa yang aktif sepert itu nantinya akan menjadi mahasiswa yang kritis, super kritis, begitu banyak wacana yang akan mereka yang mereka dapatkan dan utarakan. Begini ya, nanti kalau mahasiswa aktif di luar berarti mereka aktif, kalau aktif nanti sering kumpul, berdiskusi dan akhirnya mencetuskan sebuah pemahaman, dari sebuah pemahaman itu dapatlah mereka menganalisis sebuah hal dan hal utama untuk di analisis adalah kebijakan pemarintah, setelah itu muncullah ide-ide dan gagasan baru dalam menyikapi kebijakan lalu terciptalah strategi-strategi muslihat, hahahah….
Lalu strategi pun mendesak untuk di jalankan, dan terjadi lah aksi mahasiswa menyuarakan ide dan gagasan mereka. Wooww super sekali .. !!
Dan ini masalahanya.
pada akhirnya pemerintah merasa kewalahan dengan sikap mahasiswa yang seperti ini. Mereka menganggap sikap mahasiswa ini bisa mengancap kedudukan dan menggeser mereka dari zona nyaman yang selama ini mereka nikmati.
Dan tarrrrraaaaaaaaaaaaaaatttt. . . .
munculah kebijakan itu, mahasiswa di tuntut untuk sibuk di kampus. Sistem sks, 75% kehadiran, bla..bla…bla… hahahhaha. . . . dan lain-lainnya.
Ooo,
Tak semudah itu tentunya.
Semangat membara yang tetap tertanam di jiwa mahasiswa tak akan runtuh, pudar dan lumer hanya dengan hal demikian. Masih ada 1001 strategi yang belum di laksanakan demi sebuah tegaknya kebenaran dan menuntaskan kedzoliman. MERDEKA !!! hahahah :D

Hahahah. .. pelajaran terakhir kimia dasar II, tapi rasanya pelajaran ini tidak terserap dengan maksimal, letih sekali.
Tapi, mengeluh atau protes kepada si pembuat dan penyusun jadwal kulyah, bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana.
Ya jalani sajalah, memang di sinilah sisi seni sebagai seorang mahasiswa dengan kesibukan yang memang menjadi kesibukan.
Heemmpt,,
So semangaaaat !!
Tomorrow must be better again..

Akhirnya,
Pelajaran pun selesai,
Horeeeee, , , , , asikk..asikk….




Jogja NeverEndingAsia,
Rabu, 23 Februari 2011

MenggiLa-giLa. . .


Hak..hakkk...hakkk...
Hujan turun rintik-rintik malam ini, wuuiisshh , dingin sekaleee,,,
Tapi tak apa, itu bukanlah suatu halangan untuk melakukan misi malam ini, bersama sahabat baru ku yang super sekali phinot nama kesayangannya, nama ngk kesayngannya tak tau lah aku. Menulusuri jalanan jogja di malam hari memang rasanya berbeda ketimbang jalan-jalan di siang hari, eksotika kota gudeg terasa lebih kental dan lebih menyatu malam ini.
Lewat jembatan syayidan lalu di teruskan stop di lampu merah lalu menghampiri alun-alun utara dan selatan, akhirnya berhentilah kami di sebuah tempat makan di daerah pasar ngasem. Makna sate di pinggir jalan, hak,,hakk,,hakk... assiik sekali.. jogja megitu menawan dan elegant malam ini.
 
 
ini dia si phinot . . hehhee..
sok ngeksist banget emang orangnya . . .

Hujan rintik-rintik yang tak kunjung usai nemambah indah malam itu, hidup terasa tanpa beban, padahal tugas kulyah trus memanggil untuk di garap, ahh refreshing sejenak lah... 
Hahahahhahahahhaha. . . . .. :D
Tertawa, ketawa, laugh, nyengir, ngguyu,
Cuma itu yang bisa di lakukan malam itu, so nice adn so crazy..
Beberapa puluh menit saja, sate itu terusap tanpa bekas dan tanpa jejak, hhahaa..
Huuh, lapar pun hilang, alhmdulillah kenyang,,
Perjalanan tidak berhentik di sini, perjalanan tanpa tujuan, ya itu tema malam ini.
Kembali menelusuri jalanan jogja, lorong tamansari, perempatan kauman, timbul lagi alun-alun utara, malioboro, dan ntahlah aku tak mengenali daerah ini, dan pada akhirnya berhenti lagi di suatu tempat.

Coba tebak, kami berhenti dimana?
Ooh tepat sekali. ! ya, pinggir jalan lagi, lagi-lagi pinggir jalan.
Tak taulah, sepertinya pinggir jalan menjadi tempat yang menyenangkan malam ini.
Duduk lesehan beralaskan tiker kumel, di suguhi roti bakar cokelat dan segelas teh hangat, dan senandung musik dari arus kali code yang tertiup angin.
Wow, menyenagkan sekali..
Arus kali code yang tepat berada di bawa, membuat aku merasakan sesuatu yg berbeda,
Wew, arusnya itu loh, ngk nahan, deres bgt bikin ngerih jee, butek lagi airnya.
Kalo kali code marah trus meluap, apa jadinya rumah-rumak apik dan megah di pinggir2 itu.
Ya Allah, Lindungilah kami dari marah bahaya, amin.

Okey,
Comeback again,
Malam semakin larut, malam juga serasa memanggil dan menyuruh untuk pulang.
Siip, pertualangan di cukupkan sampai di sini.
Okelah, perjalanan pulang menuju peraduan.
Hemm, menyennagkan.
Dan memang misi menggila bersama phinot selalu menuai keberhasilan, and happy ending.
Wkwkwkkw,
Bentuk kegilaan apupun itu, terencana, apalagi tidak.
Oke. Thanks sist for this night, i’m so haapy and you’re so beautyful this night, hahhhhaaa..





Jogja NeverEndingAsia,
Senin, 21 Februari 2011

Thursday, 3 February 2011

* Saya Bukan Mereka...


Saya bukan mereka, terserah anda mau menganggap saya seperti apa, tapi saya bukan mereka. Saya hargai argument anda dan saya juga tau apa maksud anda, tapi saya buka mereka. Saya mengerti anda terlihat jelas dari bahsa tubuh anda, sekali lagi saya bukan mereka. Sedih rasanya ketika saya harus mengenahut tentang argument anda tapi saya berterimakasih kepada anda mengenai hal tersebut, tapi ingat saya bukan mereka. Saya tahu apa yang anda inginkan dari saya, ingatkah anda saya bukan mereka. Saya cukup paham dengan tindak tanduk anda yang bermaksud dan bertujuan itu, tapi saya bukan mereka. Saya tidak melarang anda untuk mengeluarkan semua argument anda, silahkan saja. bukankah anda sudah di ingatkan bahwa saya bukan mereka. Saya tahu semua ini mengalir begitu saja dan anda tidak mempunyai banyak kekuatan untuk membuat bendungan agar tidak terjadi banjir, iya. Saya sekali lagi saya berkata saya mengerti tentang itu, tapi saya tetap bukanlah mereka. Saya tau keinginan anda. tidak bisakah anda sedikit mengerti bahwa saya bukan mereka.
 
 
 
*ini, postinganku di bloggy lama, Kamis, 03 Februari 2011

Tuesday, 1 February 2011

GaLau . . .


** Puisi terindahku hanya untukmu
Mungkinkah kau kan kembali lagi, menemaniku menulis lagi…
Kamis, 09 juni 2011

Langit cinta mendung hari ini, seusai ia menurunkan derasnya cinta yang jatuh ketanah sampai menambah suburnya tamanan padi yang menguning dan berunduk karena cinta. Namun tidak langit cinta di hatiku sore ini, ia tetap mendung menurunkan derasnya hujan namun menghantam dadaku, suara gemuruhnya memekik ditelingaku hingga gendang telingaku memilih untuk pecah saja ketimbang harus retak dahulu..

Aku siap jadi pelepas dahaga ketika langit tak menurunkan air hujanya, aku siap jadi bintang yang bersinar menyinari ketika matahari siang membalikan badannya dan membuat gelap bagian lainnya, dan aku siap walau hanya jadi pelepah pisang yang melindungi dari gemuruh air hujan.

Sore ini, matahari masih bisa menyinari meski sayup-sayup karena senja sudah tiba, hujan sudah turun kemarin dan kemarau juga tak Nampak hari ini. Tapi aku tetap berdiri di ambang pintu sambil memeras-meras kedua tanganku dan mengatur detak jatungku yang terasa lebih kencang..

Aku terkejut dengan suara petir yang tiba.tiba menyapaku dari atas. Detak ku bertambah kencang semakin aku mendongak.kan wajah ke langit semakin langit ingin memuntahkan petirnya.
Aku benar.benar sesak, mataku berbinar, kakiku kaku, mulutku kelu ketika aku membaca pesan dari langit.. Ooh tuhan, ujian apalagi ini?. Tidakkah kau biarkan aku tetap berada di langit bersama bintang-bintang yang bersinar itu? Langit cinta yang tak hanya menyentuhku tapi juga memeluku dengan hangat?

Aku tak sanggup tuhan jikalau ini adalah berita terakhir dari langit. Walau perih. Sungguh. Aku masih mampu melihat bintang yang bersinar meski aku silau dengan sinarnya, aku masih mampu pergi ke langit meski kakiku kaku untuk melangkah kesana. Tuhan aku masih merindu. Terlalu cepat kau cemburu padaku.

Aku tak bisa terkata-kata tuhan, ketika engkau tunjukkan caramu mencintaiku. Aku masih tak mengerti dengan cara sore ini, aku benar-benar sesak. Apakah kau sengaja dengan ini? Jika kau biarkan sore ini kelabu untukku kenapa tak kau dahulu biarkan ia berpikir sejenak lalu melihat ketulusanku.
Tidak !!!
Tuhan, kau benar, kau tulus, dan kau benar dan tulus mencintaiku..
Jika saja sore ini tak kau jadikan neraka sesaat untukku pasti aku akan terjun ke neraka yang kekal itu, jika saja sore ini tak kau buat gelap pasti aku akan terbuta dengan kegelapan yang kekal itu, jika saja sore ini tak kau buat petir, gemuruh, dan hujan lebat pasti aku akan tersengat petir yang lebih menyakitkan, pasti aku dihujani hujan batu yang lebih pedih dan memilukan, jika sore ini tak kau buat aku menangis karena cinta semu, pasti aku akan tetap menjadi parasit yang tak tau malu yang hanya berada di pinggir-pinggir meski aku dijanjikan berada di tengah dan menjadi bunga, jika saja sore ini tak kau buat aku diam pasti aku akan terus berbicara dengan suka cita menyambut setiap percakapan yang berbekas setiap kalimatnya, jika saja sore ini tak kau hancurkan kepingan hatiku yang beberapa lalu sudah retak sebenarnya pasti kepingan itu tak akan bisa kembali utuh.

Tuhan… tuhan..
Kau begitu unik, menarik, mengagumkan dan romantic. Aku sadar kau begitu cemburu dengan ku untuk kali ini, maaf tuhan jika beberapa ratus menit yang lalu aku mendua.

Tapi tuhan, jika kau izinkan aku mendua namun tak melebihi kecintaanku kepadamu, izinkan aku merasnya di waktu yang indah, di terik siang yang matahari tersenyum padaku, di senja yang indah dengan matahari meninggalkan senyumnya lalu tergantikan dengan keheningan malam yang diatas sana bintang sedang berpesta ria bersama bulan yang menerangi malamku,




Jogja sore ini,
Juni, 2011